Penjelasan mengenai Tauhid da Agama



Artinya:

Assalammualaikum wr,wb


M: Wajibkah kita beragama?
A: Tentu kita wajib beragama
M: Apakah agama itu? 
A: IA,karna Agama ialah peraturan mengenai perintah dan larangan Tuhan,yang dibawa junjungan kita Nabi Muhammad saw.untuk seluruh manusia
M: Apakah misal perintah tuhan itu?
A: Misalnya,Sholat Lima Waktu,puasa di bulan ramadhan,menuntut ilmu,belajar membaca/mengkaji Al-Qur'an dan sebagainya
M: Apakah misal yang dilarang Tuhan?
A: Misalnya,Mencuri,berjudi,berzina,durhaka,menipu,meminum-minuman keras,berdusta dan sebagainya
M: Siapakah Tuhan yang wajib di sembah?
A: Allah Ta'ala yang wajib di sembah,yang tidak ada sekutu baginya,yang berdiri dengan sendirinya,dan yang tunggal dzatnya,itulah Tuhan yang wajib di sembah,yang dapat menjadikan tujuh langit dan bumi beserta isinya
M: Berapakah jumlah Tuhan itu?
A: Tuhan itu hanyalah satu,yaitu Allah swt,yang Maha Esa lagi Maha Kuasa
M: Kalau Tuhan itu berjumlah lebih dari satu,misalkan dua atau tiga bagaimana?
A: jika tuhan itu lebih dari misalkan dua atau tiga, maka tidak akan ada alam ini,karna tidak kuasa
M: Mengapa tidak kuasa?
A: Sebab apabila Tuhan ang satu menjadikan  suatu benda atau ciptaan,maka Tuhan yang laintidak kuasa lagi
M: Kalau bersamaan atau berdua menjadian bagaimana?
A: Itu tidak akan mungkin terjadi juga,ibaratkan dua orang pengarang sudah tentu karanganya tidak akan sama
M: Apakah alam itu?
A: Selain Allah swt,semuanya itu disebut alam,karna alam itu ciptaan
M: Apakah sifat alam itu?
A: Sifat alam itu adalah baru,kenapa baru,karna adanya itu setelah dai tidak adanya
M: Apakah misalnya?
A: Misalnya,suatu bangunan rumah,sekolah,mobil dan lain sebagainya,sekarang ada,sebelumya tidak ada
M: Apakah Alaah Ta'ala beribu?
A: Tidak Allah Ta'ala tidak berayah dan beribu
M: Siapakah yang menciptakan Allah itu?
A: Tidak ada satupun yang menciptakanya
M: Kalau begitu Allah ada dengan sendirinya?
A: Maha Suci Allah,Allah itu ada dengan sendirinya
M: Apakah Allah itu bisa mati?
A: Tidak,Allah hidup selamanya,dan ia tidak akan pernah mati
M: Kalau Allah itu bisa mati bagaimana?
A: Tentu sama dengan alam yang baru
M: Apakah Allah mempunyai anak atuau beranak?
A: Tidak,Allah tidak beranak atau diperanakan
M: Apakah Allah berteman?
A: Tidak,Allah Ta'ala tidak berteman dan bersaudara
M: Siapakah Nabi yang patut menjadi junjungan?
A: Nabi Muhammad saw itu yang harus menjadi junjungan setiap umat manusia
M: Siapakah Muhammad saw itu?
A: Yaitu,Muhammad Bin Abudullah Bin Abdul Mutholib Bin Hasyim Bin Abdul Manaf Bin Qusai Bin Kilab,bangsa Rab Quraisy
M: Siapakah ibunya itu?
A: Ibunya bernama Aminah Binti Wahab bangsa Quraisy
M: Dimanakan di dilahirkan?
A: Di kota Mekkah, hari senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun Gajah
M: Kalau masehi tanggal berapakah?
A:  Tanggal 20 April 571 M
M: Aapakah yang patut menjadi pedoman/pegangan kami?
A: Al-Qur"an dan Al-Hadits
M: Apakah ayat ayat Al-Qur'an dan Hadits itu?
A: Adapun ayat Al-Qu'an itu ialah Firman Allah swt, dan Adapun Hadits itu perkataan atau ucapan atau sabda Rasulullah saw
M: Apakah agama yang patut kami ikuti
A: Islamlah agama yang patut di ikuti.

Wassalammualaikum wr,wb

ilmu fiqih

ASSALAMMUALAIKUM WR.WB

Bab Thoharoh:
mengenai adab buang air 

slam agama yang indah, dan sebuah keindahan tidak akan terwujud dengan kata-kata dan tidak akan terbangun di atas pondasi yang meremehkan masalah kebersihan. Ada banyak hadits nabi yang menjelaskan betapa pentingnya masalah keindahan dan kebersihan. Diantaranya:
إن الله جميل يحب الجمال
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan Ia menyukai keindahan”
النظفة من الإيمان
“Kebersihan itu adalah sebagian dari tanda-tanda keimanan.”

Beristinja merupakan kegiatan rutin serta harus dikerjakan, maka lebih wajib lagi mengetahui dan mempraktekkan bagaimana cara melakukannya dengan penuh adab islami sesuai dengan sunnah nabi Muhammad –salallahu alaihi wasalam-. Mengetahui adab-adab dalam beristinja mutlak berpengaruh terhadap keabsahan ibadah wajib selanjutnya. Jika istinja tidak sah, maka wudhu otomatis menjadi tidak sah, dan jika wudhu tidak sah, maka shalat pun menjadi tidak sah. Jika shalat sudah tidak sah, maka apa bekal yang akan kita bawa kepada Allah nanti di hari kemudian.

Tidak hanya di akhirat, di dunia pun kita akan diliputi kegelisahan dan banyak masalah yang tidak selesai disebabkan shalat kita tidak diterima oleh Allah. Shalat yang diharapkan bisa mencegah kita dari perbuatan fahsya dan mungkar, ternyata tidak berpengaruh apa-apa dalam kehidupan kita dikarenakan kelalaian kita dalam menjaga adab dalam beristinja. Belum lagi di akherat, kita akan kesulitan memasuki syurganya Allah ta’ala. Dalam hadits-hadits berikut jelas disebutkan:

مِفْتَحُ الجَنَّةِ الصَّلاَةُ وَ مِفْتَحُ الصَّلاَةِ الطُّهُوْرُ
“Kunci syurga itu adalah shalat, dan kunci shalat itu adalah bersuci..”

لا تقبل الصلاةُ بغير طهورٍ, ولا صدقةُ من غلول.. (رواه الترمذي)

“Tidak diterima sholat tanpa bersuci, tidak diterima sedekah dari harta curian..” (Thirmizi no.1 dari Abu Hurairah dan Anas, shahih)

Dalam kitab Irsyadul’ibad dikatakan dalam sebuah hadits bahwa di alam kubur banyak orang yang disiksa/dicambuk oleh malaikat adzab, dikarenakan mereka sholat tetapi tidak sholat mereka tidak diterima lantaran mereka tidak bersuci secara benar. Dalam hadits lain disebutkan salah satu penyebab adzab kubur dikarenakan seseorang tidak benar cara beristinjanya ketika buang air kecil). Na’udzubillah.

Langsung ke inti kajian, adapun adab-adab berinstinja, diantaranya:

1. Membaca Basmallah dan do’a sebelum memasuki kamar kecil
عن آنس بن مالك أن النبي صل الله عليه وسلم كان إذا دخل الخلاء قال:
اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلخُبْثِ والْخَبَائِسِ..(رواه الترمذي)

Dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi -salallahu alaihi wasalam- jika masuk ke dalam kamar kecil, beliau membaca : (Allahumma inni a’udzubika minal khubsi wal-khabaa-is)Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan setan perempuan..” (Thirmizi, Bab thaharah no. 6, hasan shahih)
Dari Ali bin Abi Thalib -radiyallahu anhu- bahwa Nabi -sallallahu alaihi wa sallam-berkata: “Pelindung/tabir antara mata jin dan bagian-bagian pribadi anak Adam jika salah satu dari mereka masuk toilet, adalah untuk mengatakan: ‘Bismillah’.. (Hadits Riwayat Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, hadits hasan)

Adapun hikmah dari membaca doa sebelum memasuki kamar kecil adalah agar terhindar dari gangguan setan yang memang bersarang di kamar kecil sebagai tempat favorit mereka. Sehingga ketika seseorang membaca basmalah dan doa ini, maka setan-setan akan keluar dari kamar mandi tsb dan tidak akan mempengaruhi orang tsb. Walaupun demikian, dianjurkan untuk tidak berlama-lama di dalam kamar kecil (WC)
2. Memasuki kamar mandi dengan kaki kiri, dianjurkan pula menggunakan alas kaki khusus di dalam kamar kecil.
3. Tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat ka’bah, menghadaplah ke arah selainnya.
إذا أتيتم الغَائِطَ فلا تستقبلوا القبلة بغائطٍ ولا بَولٍ ولا تستدبروها, ولكن شَرِّقو أو غريبوا..(رواه الترمذي)
Dari Abu Ayyub Al-Anshari berkata bahwa Rasulullah -salallahu alaihi wasalam- bersabda: Jika kalian ingin ke belakang buang hajat, jangan menghadap kiblat atau membelakanginya, baik buang air besar maupun buang air kecil, akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat. (Thirmizi no. 8)
Tidak menghadap atau membelakangi kiblat ketika melakukan perkara kotor (seperti buang air, meludah, dsb) termasuk adab yang tinggi kepada Allah. Disebutkan bahwa para wali terdahulu, saking menghormati arah kiblat mereka tidak akan meludah kecuali mengetahui posisi mereka. Sebaliknya, disunnah jika melakukan perkara ibadah (misal berwudhu, membaca quran) maka disunnahkan menghadap ke arah kiblat. Imam Al-Ghazali mengatakan, salah satu agar penglihatan menjadi tajam, adalah dengan membiasakan membaca quran menghadap arah kiblat.

4. Buang air dengan posisi duduk, baik buang air kecil maupun buang air besar. Jangan buang air kecil dengan berdiri.
عن عائسة قالت: من حدّسَكم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبولُ قائماً فلا صدِّقوه, ما كان يبول إلا قاعدا..(رواه الترمذي)

Dari ‘Aisyah, beliau berkata: Siapa saja yang mengatakan bahwa baginda Nabi buang air dengan berdiri maka jangan percayai dia! Karena beliau buang air kecil selalu dengan cara duduk. (Thirmizi no. 12, shahih)
Diriwayatkan Abdul Karim bin Mukhariq dari Nafi’ dan Ibnu Umar dari bapaknya Umar bin Khattab, ia berkata:
راني النبي صلى الله عليه وسلم وأنا أبول قائماً, فقال: يآ عمر! لا تبلْ قائماً. فما بلتُ قائماً أبداً بعده..
Satu ketika Nabi melihatku sedang aku sedang buang air kecil dalam keadaan berdiri. Maka berkata Nabi kepadaku: Wahai Umar, jangan buang air kecil dengan berdiri! Umar berkata: dan tidak pernah aku kencing dengan berdiri setelah kejadian itu” (Thirmizi)

عن نافع عن ابن عمر عن عمر قال قال عمر رضى الله عنه: ما بلتُ قائماً منذ أسلمت
Dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Umar bin Al-Khattab berkata, telah berkata Umar: Aku tidak pernah buang air kecil dengan berdiri sejak aku masuk Islam. (Thirmizi, shahih)

Beberapa hikmah buang air secara duduk adalah tercegah dari air seni sisa di penis pria, mencegah kanker prostat, lebih bersih, dan dekat kepada ketaqwaan.
Adapun caranya posisi duduk buang air telah dijelaskan oleh ulama diantaranya Imam An-Nawawi yaitu dengan duduk bertumpu di atas kaki kiri dan kaki kanan tegak di atas tanah atau menempatkan berat pada kaki kirinya.

5. Tidak menyentuh dan membersihkan kemaluan dengan tangan kanan

عن عبدالله بن قتادة عن أبيه: أن النبي صلى الله عليه وسلم نهي أن يمسّى الرجلُ ذكره بيمينه
Dari‘Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya berkata: Nabi melarang seorang laki-laki menyentuh zakarnya dengan menggunakan tangan kanan. (Thirmizi no. 15, hasan shahih)
6. Melangkah keluar kamar kecil dengan kaki kanan dan membaca doa setelah buang air

Adapun doa setelah keluar dari kamar kecil yaitu
غُفْرَانَكَ, اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنِّيْ الَأذَى وَ عَافَانِيْ
Ghufroonaka, alhamdulillahil-ladzi.. adzhaba ‘annil-adzaa wa ‘aafaani..
“Aku mohon ampun kepada Allah, Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku penyakit dan yang telah menyehatkanku.”

Atau cukup dengan mengucapkan غُفْرَانَكَ

7.Tertib
maksudnya tidak melakukan sesuatu (misal makan, berbicara) selain buang hajat selama di dalam kamar mandi atau kamar kecil. Diharamkan membawa perkara-perkara yang mulia spt Al-Quran, kitab/buku agama, dsb selama di kamar kecil.

8.Menyempurnakan dengan mengambil wudhu agar kembali suci.

وبالله توفيق والهداية

WASSALAMMUALAIKUM WR.WB

ilmu fiqih

ASSALAMMUALAIKUM WR.WB

Bab Thoharoh:

Istinja’ dalam bahasa Arab artinya mencari keselamatan dan dalam ilmu fiqih ialah menghilangkan najis yang keluar dari kedua aurat depan dan belakang dengan memakai air atau batu dan hukumnya wajib.

Beristinja’ ada tiga cara:

1. Cara pertama dengan mengunakan air dan batu, ini merupakan cara yang paling sempurna dan disunahkan karena bisa menghilangkan bekas najis secara keseluruhan.

2. Cara kedua dengan menggunakan air saja, ini merupakan cara yang cukup. Cara ini pernah dilakukan oleh Nabi saw.

Sesuai dengan Hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Bahwa Rasulullah saw. pernah memasuki kebun, diikuti olehku dan seorang anak muda yang membawa kendi berisi air, maka beliau beristinja dengan air. (HR Bukhari Muslim)

3. cara ketiga dengan menggunakan batu saja ini merupakan cara yang paling ringan atau sedikitnya.

Rasulallah saw bersabda: “Sesungguhnya aku bagi kamu seperti bapak maka apabila engkau ke WC, janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kencing atau buang air besar dan bersucilah (ceboklah) dengan tiga batu” (HR asy-Syafie, Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah).

Dalam hal ini Rasulallah saw melarang cebok dengan menggunakan tahi binatang yang kering atau tulang dan melarang beristinja’ (cebok) dengan tangan kanan.  



Syarat Beristinja’ Dengan Batu

1. Beristinja’ sebelum najisnya kering

2. Beristinja’ di tempat keluarnya najis atau tidak berpindah dari tempat najis dan berceceran

3. Tidak tersentuh oleh sesuatu

4. Tidak pindah najisnya dari kedua aurat (lubang tempat keluar najis)

5. Beristinja paling sedikit dengan tiga batu. Sesuai dengan hadist dari Salman al-Farisi ra, ia berkata: “Rasulallah saw memerintahkan kami untuk tidak beristinja’ (cebok) kurang dari tiga batu” (HR Muslim) 

WASSALAMMUALAIKUMWR.WB

ilmu fiqih

ASSALMMUALAIKUM WR.WB

Bab Thoharoh:

Hal-Hal Yang Membatalkan Tayamum

Segala yang membatalkan wudhu, membatalkan tayamum. Tayamum batal jika hilang penyebab pembolehan, seperti sudah mendapati air atau sudah mampu menggunakan air. Akan tetapi jika sudah shalat dengan tayamum kemudian menemukan air maka ia tidak wajib mengulanginya[2]. Sedangkan orang yang tayamum karena junub maka ia harus mandi ketika sudah menemukan air.[3]
Catatan Kaki:

[1] Keberadaan air dianggap jauh ketika berjarak lebih dari satu mil (1847 m) menurut mazhab Hanafi, atau setengah farsakh sekitar satu setengah  mil menurut mazhab Syafi’i (2771 m) atau dua mil  menurut mazhab Maliki (3694 m)

[2] Menurut mazhab Maliki dan Syafi’i karena hadits Rasulullah saw. terhadap orang yang tidak mengulang shalat setelah menemukan air: “Kamu sesuai dengan sunnah dan shalatmu sudah boleh” (Abu Dawud dan An Nasa’i).

[3] Karena hadits Imran RA berkata, “Rasulullah saw. shalat bersama dengan kaum muslimin. Ketika usai shalat, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyendiri dan tidak ikut shalat bersama kaum muslimin. Nabi menegurnya: Mengapa kamu tidak shalat bersama kaum muslimin? Orang itu menjawab: Saya junub dan tidak ada air. Sabda Nabi: Kamu bisa gunakan tanah, itu cukup. Kemudian Imran menyebutkan bahwa setelah mereka menemukan air, Rasulullah memberikan air kepada orang yang junub tadi dengan mengatakan,’ bawalah dan gunakan mandi.” (Al-Bukhari).

WASSALAMMUALAIKUM WR.WB

ilmu fiqih mengenai wajib tayyammum

ASSALAMMUALAIKUM WR.WB


Bab Thoharoh:

1. Memindahkan tanah yang berdebu ke muka dan tangan.

Firman Allah:  “maka bertayamumlah kamu” an-Nisa’, 43
2. Niat (aku niat bertayammum untuk melakukan shalat) disertai tepukan tangan ke tanah dan menyapunya.

Rasulallah saw bersabda  “Sesungguhnya setiap amal  perbuatan tergantung pada niatnya”  (HR Bukhari Muslim)
3. Menghapus muka satu kali

4. Menghapus kedua tangan sampai ke siku satu kali

5. Tertib antara kedua penghapusan, yaitu menghapus muka dahulu baru setelah itu tangan.

Allah berfirman ” sapulah mukamu dan tanganmu“. an-Nisa’ 43

Dalam ilmu fiqh tayammum diartikan dengan menyampaikan tanah ke muka dan dua tangan sebagai ganti daripada wudhu dan mandi jika tidak ada air atau sakit (berhalangan) menggunakan air. Kemudian jika waktu sholat datang sedangkan air dan tanah suci tidak ada maka shalat wajib didirikan tanpa wudhu.

Sesuai dengan hadist Rasulallah saw yang diriwayatkan dari Aisyah bahawasanya ia meminjam kalung dari Asma’, lalu kalung itu hilang. Kemudian Rasulullah saw mengutus seseorang (untuk mencarinya), akhirnya kalung tadi dapat ditemukan. Lalu waktu sholat tiba dan tidak ada air di sana. Mereka sholat (tanpa wudu’) dan memberitahukan kepada Rasulullah saw. Maka Allah menurunkan ayat-ayat tayammum” (HR Bukhari Muslim).

Perbuatan shahabat ini tidak dibantah oleh Rasulallah saw dan tidak dikatakan bahwa shalat dalam keadaan seperti ini tidak wajib, akan tetapi wajib baginya untuk mengulangi shalatnya, karena “Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci” (HR Muslim)

WASSALAMMUALAIKUM WR.WB

ilmu fiqih mengenai syarat tayyammum

ASSALAMMUALAIKUM WR.WB

Bab Thoharoh:

1. Harus dengan tanah suci yang berdebu diiringi dengan tujuan ingin bertayammum.

Allah berfirman “ maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)” (an-nisa’ 43).

Rasulallah saw bersabda dalam hadistnya yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman ra “Kita dilebihkan dari manusia (umat) yang lain dengan tiga perkara yaitu dijadikan bumi seluruhnya sebagai masjid (tempat shalat), dijadikan tanah/debunya bagi kita sebagai sarana bersuci (apabila kita tidak mendapatkan air), dan shaf-shaf kita seperti shaf-shaf malaikat.” (HR Muslim)

2. Harus dengan dua penghapusan, menghapus muka dan tangan sampai ke siku hanya satu kali penghapusan. Tayammum adalah pengganti wudhu. Maka pengganti harus sama dengan yang diganti. Jadi penghapusan tangan sampai ke siku dalam tayammum sama dengan perintah Allah untuk membasuh tangan sampai ke siku disaat wudhu..  .

Firman Allah: “kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu“. an-Nisa’ 43

Rasulallah saw bersabda dalam hadist yang diriwayatkan dari Jabir ra “Tayyammum itu satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan lagi untuk kedua tangan sampin siku” (HR al-Baihaqi)

Hadis riwayat Abul Juhaim Al-Anshari ra, ia berkata: Rasulullah saw. pernah datang dari sumur Jamal dan bertemu dengan seorang lelaki yang mengucapkan salam kepada beliau. Namun beliau tidak menjawabnya. Ketika beliau tiba di suatu dinding, beliau mengusap wajah dan kedua tangan beliau, kemudian menjawab salam. (HR al-Baihaqi)

3. Boleh bertayammum hanya setelah masuk waktu shalat, karena tayyammum adalah pengganti air dan tidak dilakukan kecuali setelah masuk waktu yaitu setelah diyakini betul betul ketiadannya.

4. Harus bertayammum setiap shalat fardhu.

Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu” al-Maidah 6

Tidak sah shalat kecuali dengan wudhu, dan satu wudhu bisa digunakan untuk beberapa shalat fardhu. Berlainan dengan tayyammum dilakukan sebagai pengganti wudhu dan hanya bisa digunakan untuk setiap shalat fardhu.

Sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata “Rasulallah saw bertayyammum setiap shalat walaupun tidak berhadats (batal) ” (HR al-Baihaqi dengan isnad shahih)

WASSALAMMUALAIKUM WR.WB

ilmu fiqih mengenai bila dibolehkanya untuk bertayyammum

ASSALAMMUALAIKUM WR.WB

Bab Thoharoh:

Bila Dibolehkan Tayammum?
1. Sewaktu tidak ada air

Firman Allah: “ kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)” an-Nisa’ 43.

Sabda Rasulallah saw: “Tanah yang baik (suci) wudhunya seorang muslim jika tidak ada air” (HR Abu Daud, at-Tirmidzi)
2. Sewaktu berbahaya memakai air (karena sakit).

Firman Allah “ Dan jika kamu sakit” an-Nisa’ 43
3. Sewaktu perlu air untuk keselamatan jiwa (manusia atau hewan)

4. Sewaktu udara sangat dingin dan tidak ada api atau pemanas untuk memanaskan air.

Sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dari Amru bin al-Ash, ia berkata: ”Ketika kami dalam peperangan Zatu al-Salasil (8H), aku telah mimpi (berjunub) sedangkan ketika itu udara sangat dingin. Aku kuatir jika aku mandi akan binasa (sakit), lalu aku bertayammum dan mengimamkan sholat subuh bersama-sama kawan-kawanku. Ketika kami sampai di sisi Rasulullah saw, kawan-kawanku mengadu hal tersebut kepada beliau. Lalu Rasulullah saw bersabda: “Wahai Amru! Kamu sholat dengan kawan-kawanmu, sedangkan engkau berjunub?” Saya menjawab: “Saya teringat firman Allah: (Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu). Lalu sayapun bertayammum dan sholat”. Rasulullah saw tidak berkata apa-apa” (HR Bukhari Muslim, Abu Daud, al-Baihaqi, al-Hakim)

WASSALAMMUALAIKUM WR.WB